Thursday, August 31, 2017

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY 1

Film ketiga dari THE HUNGER GAMES ada MOCKINGJAY, MOCKINGJAY sendiri dibagi menjadi 2 part. kita bahas yang pertama dulu yaa..... cekidooottt....







Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) tidak pernah menyangka keberaniannya menggantikan sang adik Primrose Everdeen (Willow Shields) untuk mengikuti ajang tahunan The Hunger Games yang diadakan di Capitol, ibukota Panem membawa serangkaian cerita lain dalam hidupnya. Ia juga tidak menyangka perbuatannya yang berencana memakan berry beracun Nightlock bersama Peeta Mellark (Josh Hutcherson) di arena permainan The Hunger Games dan memanah arena pertandingan Quater Quell dianggap sebagai tindakan pemberontakan terhadap presiden yang sedang berkuasa, Presiden Snow (Donald Shuterland). Tindakan pemberontakannya itu juga membangkitkan semangat untuk ikut berjuang oleh para warga di distrik-distrik lainnya. Yang tentu saja dibalas dengan tindakan pembumihangusan Distrik 12 secara total kecuali Desa Pemenang yang tetap utuh.

Menurut penuturan Gale (Liam Hemsworth) ketika ia, Katniss dan beberapa orang lainnya mengunjungi sisa-sisa Distrik 12, dari 100.000 orang yang tinggal di Distrik 12 hanya tersisa 915 orang yang kini ikut mengungsi ke Distrik 13 yang selama ini diyakini telah hancur total namun ternyata mereka melakukan gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh Presiden Coin (Julianne Moore). Kini Distrik 13 telah siap untuk bangkit dan balas memberontak kepada Capitol yang telah membungkam mereka. Untuk melakukan hal tersebut mereka butuh dukungan dari distrik-distrik lain. Dan mereka butuh sosok yang bisa membangkitkan semangat juang para warga, Katniss Everdeen.


Katniss tidak serta-merta memenuhi permintaan Presiden Coin untuk menjadi sosok Mockingjay. Ia masih belum pulih dari rasa kehilangan Peeta yang ditawan Capitol ketika Quarter Quell berakhir. Tak hanya Peeta, Annie istri Finnick (Sam Claffin) dan Johanna (Jena Malone) pun ditahan. Dan Peeta pun kini menjadi juru bicara Capitol, meminta Katniss menyerah dan menghentikan perang saudara yang dipastikan akan berkecamuk. Semua warga Distrik 13 mengutuk keras perkataan Peeta. Berbekal kebencian warga Distrik 13 terhadap Peeta, Katniss mengajukan persyaratan kepada Presiden Coin kalau mereka tetap dirinya menjadi sosok Mockingjay. Persyaratannya adalah mereka harus membebaskan Peeta, Annie dan Johanna serta mereka harus diberi kekebalan hukum khususnya bagi Peeta atas apa pun perbuatan atau perkataannya yang memicu kemarahan warga Distrik 13. 

Presiden Coin dengan sedikit dorongan dari Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) menyetujui permintaan Katniss. Dan dikirimlah enam orang sukarelawan yang bersedia datang ke Capitol dan membebaskan Peeta, Annie dan Johanna. dari keenam orang sukarelawan itu yang pertama kali mengajukan diri tentu saja Gale. Gale mengerti kalau kehadiran Peeta meski hanya lewat layar kaca telah membuat Katniss tenang dan fokus pada tujuan mereka. 

Sementara itu Katniss dan beberapa orang lainnya yang dipimpin oleh Cressida (Natalie Dormer) membuat video propaganda yang akan disebarkan ke distrik-distrik lain lewat kemampuan jenius Beetee (Jeffrey Wright). Awalnya video itu dibuat di studio agar keamanan Katniss terjamin. Namun hasil rekaman itu sangat tak memuaskan. Maka datanglah mereka ke Distrik 8 dan Katniss menyaksikan sendiri para warga yang terluka parah namun Capitol malah menyerang rumah sakit setempat dengan bom pesawat udara. Saat itulah Katniss langsung menyatakan perang dengan Presiden Snow dengan kalimat yang sangat membakar semangat :

"If we burn, you burn with us!!!"

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY 2

lanjutan dari mockingjay 1 nihhh....
Hasil gambar untuk review the hunger games mockingjay part 2 
Seri film The Hunger Games menjadi salah satu sensasi beberapa tahun belakangan. Tiga film sudah dirilis, yakni The Hunger Games (2012), The Hunger Games: Catching Fire (2013), dan The Hunger Games: Mockingjay Part 1 (2014), seri ini sukses mengumpulkan miliaran dolar AS di box office dunia, sekaligus meroketkan Jenifer Lawrence sebagai bintang Hollywood bersinar. Tahun 2015, The Hunger Games: Mockingjay Part 2 dirilis untuk menuntaskan kisah berlatar dystopian future ini.

Menengok cerita sebelumnya, seri ini kisahkan sebuah negara di masa depan bernama Panem, yang dipimpin secara totaliter oleh Presiden Snow. Untuk memperkokoh kuasanya sekaligus meredam pemberontakan, pemerintah merancang sebuah permainan maut tahunan bernama The Hunger Games, yang mengadu kekuatan dan keterampilan para remaja dari setiap distrik negara, sampai tersisa satu orang juara yang masih hidup sebagai juaranya. Pertandingan berbentuk survival game ini disiarkan ke penjuru negeri layaknya reality show, membuat pemenangnya akan jadi selebriti, lalu dijadikan alat propaganda negara agar rakyat tetap tunduk.

Kisah Mockingjay berkutat pada juara The Hunger Games dari distrik 12, Katniss Everdeen yang diajak bergabung oleh gerakan pemberontak distrik 13 pimpinan Presiden Alma Coin, untuk menggulingkan pemerintahan Snow di ibukota Capitol. Ini merupakan kelanjutan dari keberanian Katniss untuk melawan pemerintah saat memenangkan The Hunger Games, yang menjadikannya simbol perlawanan rakyat. Kala itu, aturan permainan terpaksa dilanggar dengan adanya dua orang pemenang, yaitu Katniss dan rekannya dari distrik 12—yang juga mencintainya—Peeta Mellark, karena Katniss mengancam akan mati bersama Peeta daripada membunuhnya.

Dalam film Mockingjay Part 1, Katniss telah ditunjuk sebagai duta perlawanan dengan menggunakan popularitasnya. Ia ditugaskan melakukan kunjungan ke berbagai distrik demi menggalang dukungan, termasuk membintangi berbagai tayangan propaganda buatan distrik 13. Part 1 pun terhenti ketika distrik 13 berhasil membebaskan Peeta dari sekapan Snow di Capitol, namun Peeta ternyata sudah dicuci otak untuk membenci dan membunuh Katniss.
Dari sana, Mockingjay Part 2 langsung memulai tuturannya ketika distrik 13 hanya beberapa langkah lagi untuk menyerang Capitol. Tekanan ini membuat Presiden Snow menitahkan berbagai perangkap yang biasa dipakai untuk The Hunger Games dipasang di seluruh penjuru Capitol, demi menghalangi pasukan pemberontak. Katniss sendiri dilarang oleh Presiden Coin untuk terjun ke lapangan, karena ia dibutuhkan untuk tetap hidup sebagai simbol. Namun, Katniss tak bisa tinggal diam, karena ia sudah bertekad untuk memusnahkan Snow yang jadi sumber penderitaan terhadap diri dan keluarganya seumur hidup mereka.

Wednesday, August 30, 2017

DON'T HANG UP

and last but not least ada dari film yang berjudul "don't hang up"
Agak menggemaskan jika sebuah film memiliki potensi untuk menjadi bagus, atau setidaknya berkesan, tapi gagal untuk mengembangkan potensinya tersebut. Kasus sama layak disematkan kepada Don’t Hang Up, sebuah film thriller-horor karya  Alexis Wajsbrot dan Damien Mace.
Don’t Hang Up, sebagaimana beberapa film horor masa kini (Unfriended, Friend Request, Blair Witch), memaparkan karakteristik generasi millennial dengan kegemaran memanfaatkan internet, gadget, dan trend viral sebagai keseharian mereka dan dipadu dengan tema klasik, prank jokes turn deadly. Secara garis besar film berkisah tentang dua remaja, Sam (Gregg Sulkin, Anti-Social) dan Brady (Garret Clayton, King Cobra), yang bersama beberapa teman mereka lainnya gemar melakukan telepon-telepon iseng dan mempublikasikan hasil rekaman keisengan tersebut ke dalam sebuah blog.
Segalanya menyenangkan, sampai suatu malam sesosok misterius mulai meneror Sam dan Brady dengan menggunakan modus operandi sama dengan kejahilan mereka selama ini. Tentu saja mulanya mereka mengira mendapat gangguan orang iseng lain, sampai terbukti jika bukan nyawa mereka saja terancam, namun juga orang-orang yang mereka pedulikan.
Ini merupakan debut dari Wasjbrot, selepas film pendeknya, Red Ballon (2010, juga bersama Mace), serta kinerjanya sebagai pengawas efek khusus atau CGI di beberapa film besar (Doctor Strange, Edge of Tomorrow, Gravity, dan banyak lagi). Dengat latar dan jam terbangnya, jelas jika Washbrot dan Mace memiliki referensi luas, sehingga memanfaatkan hal tersebut dalam Don’t Hang Up.
Hanya saja Don’t Hang Up sepertinya mengalami krisis orisinalitas dan identitas. Visual hiper-kinetis yang jelas-jelas meniru Panic Room, (David Fincher, 2002)  di adegan awal, dan beberapa adegan setelahnya, seharusnya bisa menjadi indikasi. Belum lagi pendekatan yang menggabungkan antara home-invasion, mockumentary, slasher bahkan torture-porn ala Saw.
Tidak masalah sebenarnya, karena bagaimanapun bongkar ulang atau “meminjam” formula film lain bukan hal asing untuk sebuah film, terutama horor. Menjadi masalah film terasa sangat mengedepankan teknis dan terlupa rasa.
Elemen-elemen yang menjadi “inspirasi” tadi tidak benar-benar tergali secara efektif, tapi lebih sekedar tempelan sana-sini tanpa perekatan yang utuh. Bahkan pemanfaatan teknologi hanya menjadi gimmick  dan mengada-ngada, tanpa memberi kontribusi substantif. Hence, it suffers from some serious plausible issues.
Baik Sulkin dan Clayton bermain dengan cukup baik. Namun, film tidak memberi ruang agar karakter mereka lebh dari arketipe. Mungkin kalau Don’t Hang Up lebih mengedepankan karakter nyata ketimbang klise, film akan memberi impresi lebih mengesankan ketimbang hanya sebagai sosok-sosok yang dengan senang hati disaksikan untuk menderita dan membiarkan kita untuk bersorak dan bersimpati dengan antagonisnya.
Padahal Don’t Hang Up bisa menjadi semacam fabel modern yang provokatif dan menggugah emosi penonton dengan “pesan moralnya”. Sayangnya, meski menghibur, kita hanya peduli pada sajian darah, kekerasan dan shock factor-nya belaka.
Don't Hang Up

THE HUNGER GAMES

The Hunger Games ini menceritakan tentang kehidupan di masa depan, dimana negara Amerika udah gak ada lagi. Yang ada adalah negara bernama ...